Kata "pelampung" dipakai untuk benda-benda yang pekerjaannya sangat berbeda. Sebagian menandai sesuatu, sebagian menahan kapal, sebagian lagi menyangga beban yang tidak terlihat dari permukaan — dan satu jenis justru dirancang untuk tidak pernah muncul ke permukaan.
Perbedaannya penting karena pelampung yang tertukar fungsi bukan sekadar kurang optimal; ia bisa memberi informasi yang salah kepada kapal yang melihatnya.
Tabel jenis pelampung
| Jenis pelampung | Fungsinya | Ciri khasnya |
|---|---|---|
| Pelampung suar | Menandai alur dan bahaya navigasi | Membawa lentera, warna dan top mark sesuai IALA |
| Pelampung tanda khusus | Menandai area kerja, pipa, atau titik tertentu | Kuning, lampu kuning, di luar sistem alur |
| Mooring buoy | Tempat kapal menambat tanpa menurunkan jangkar | Hawse pipe di tengah, rantai berat ke dasar laut |
| Midline buoy | Menyangga tali atau rantai di satu titik sepanjangnya | Mengangkat lengkungan tali agar tidak menggesek dasar |
| Sub surface buoy | Menyangga beban, dan tetap di bawah permukaan | Tidak terlihat dari atas, sering berisi busa sintetik |
| Pelampung pipa | Mengapungkan pipa atau selang pengerukan | Dua belahan yang dijepitkan mengelilingi pipa |
| Pelampung kabel | Menandai dan mengapungkan kabel di air | HDPE dengan pengikat tahan korosi |
Pelampung yang menandai
Pelampung suar adalah pelampung bertambat yang membawa lentera, dan merupakan bagian dari sistem IALA. Warnanya, bentuk top mark-nya, dan ritme lampunya bukan pilihan pemasang — ketiganya menyatakan arah aman kepada kapal. Arti warnanya ada di arti warna pelampung suar, dan cara memilih lenteranya di cara memilih lentera rambu suar.
Pelampung tanda khusus berada di luar sistem alur. Ia kuning, berlampu kuning, dan menandai hal-hal yang bukan soal arah berlayar: batas area kerja, jalur pipa bawah laut, titik pengambilan air, area budidaya. Karena berada di luar sistem, ritmenya bebas — asalkan tidak meniru ritme yang sudah dipakai tanda kardinal, bahaya terpencil, atau perairan aman.
Pelampung yang menahan
Mooring buoy memungkinkan kapal menambat tanpa menurunkan jangkarnya sendiri. Manfaatnya bukan sekadar kepraktisan: di perairan dengan terumbu karang atau pipa bawah laut, jangkar yang digaruk merusak dasar laut, sedangkan satu titik tambat permanen tidak.
Yang terlihat di permukaan hanyalah bagian kecilnya. Di bawahnya ada rantai, pemberat atau jangkar, dan kadang swivel agar rantai tidak terpelintir saat kapal berputar mengikuti arus. Sistem tambat berskala besar untuk kapal tanker memakai prinsip serupa — lihat cara kerja single point mooring.
Midline buoy dan sub surface buoy
Keduanya sering tertukar, bahkan di katalog pemasok, karena sama-sama "pelampung yang tidak untuk ditambati kapal". Bedanya tegas:
- Midline buoy menyangga talinya, di satu titik sepanjang bentangan. Fungsinya mengangkat lengkungan tali yang kendur agar tidak menggesek dasar laut atau menyangkut pipa
- Sub surface buoy menyangga beban, dan merupakan puncak dari sistemnya sendiri. Ia sengaja berada di bawah permukaan secara permanen, sehingga aman dari lalu lintas kapal, ombak, dan cuaca
Sub surface buoy yang bekerja di kedalaman besar tidak bisa memakai rongga berisi udara, karena tekanan air akan meremukkannya. Pelampung jenis itu memakai busa sintetik — bahan padat berisi gelembung kaca mikroskopis yang tetap mengapung tanpa rongga yang bisa penyok.
Pelampung yang mengapungkan
Pelampung pipa dipakai pada pengerukan dan penambangan pasir, menjaga pipa atau selang tetap di permukaan agar tidak tenggelam atau tersangkut. Bentuknya dua belahan yang dijepitkan mengelilingi pipa, sehingga bisa dipasang tanpa melepas sambungan. Cara menghitung jumlahnya ada di cara menghitung jumlah pelampung pipa.
Pelampung kabel bekerja serupa untuk kabel, dengan pengikat tahan korosi karena menempel langsung pada sesuatu yang berada di air asin terus-menerus.
Cara kerja daya apung
Semua pelampung bekerja dengan satu prinsip: benda terapung menerima gaya ke atas sebesar berat air yang dipindahkannya. Satu meter kubik air laut beratnya sekitar 1.025 kilogram, maka satu meter kubik ruang yang terendam penuh memberi daya apung sekitar satu ton.
Tapi angka itu adalah daya apung kotor, dan bukan itu yang tersedia untuk bekerja. Yang harus dikurangkan lebih dulu:
- Berat pelampungnya sendiri — badan baja atau PE, rangka, lentera, dan perlengkapan
- Berat rantai tambat yang tergantung padanya, yang pada pelampung besar bisa melebihi berat pelampungnya
- Cadangan daya apung agar pelampung tetap punya lambung timbul dan tidak tenggelam saat ombak lewat
Pelampung yang dihitung pas tanpa cadangan akan duduk terlalu dalam, tersapu ombak, dan lenteranya tidak terlihat dari jarak yang seharusnya.
Kenapa pelampung bisa tenggelam
Pelampung jarang tenggelam karena salah hitung di awal. Penyebabnya biasanya hal-hal yang bertambah perlahan:
- Teritip dan lumut yang menempel di bawah garis air. Lapisan ini menambah berat terus-menerus dan bisa menjadi beban yang berarti dalam hitungan bulan
- Air yang masuk lewat sambungan atau lubang korosi. Inilah sebabnya banyak pelampung diisi busa poliuretan — badan yang bocor pun tetap mengapung karena tidak ada rongga untuk diisi air
- Rantai yang memberat oleh karat dan tumbuhan laut
- Anoda korban yang habis, setelah itu korosi berpindah menggerogoti badan pelampungnya
Keempatnya bersifat bertahap, sehingga pemeriksaan berkala jauh lebih murah daripada penggantian. Rantai tambatnya sendiri dibahas di rantai jangkar kapal.
Memilih jenis yang tepat
Pertanyaan pertamanya bukan ukuran, melainkan pekerjaan apa yang harus dilakukan pelampung itu: menandai arah berlayar, menandai sesuatu yang bukan alur, menahan kapal, menyangga tali, menyangga beban di bawah air, atau mengapungkan pipa. Jawabannya langsung menentukan jenisnya, dan ukuran menyusul dari perhitungan daya apung di atas.
Seluruh jenisnya tersedia di Kemenangan — pelampung suar, pelampung tanda khusus, mooring buoy, midline buoy, sub surface buoy, pelampung pipa, dan pelampung kabel.
