Pertanyaan "kapan musim hujan" terdengar seperti pertanyaan berjawab satu tanggal. Sebenarnya tidak — dan memahami kenapa tidak jauh lebih berguna daripada menghafal satu tanggal yang salah untuk sebagian besar wilayah Indonesia.
Ada pula dua pertanyaan berbeda yang sering tertukar. Kapan hujan turun adalah soal prakiraan cuaca harian, berlaku beberapa hari ke depan. Kapan musim hujan mulai adalah soal iklim, ditetapkan dengan aturan hitung yang berbeda sama sekali. Tulisan ini menjawab yang kedua, dan menjelaskan aturannya.
Jawaban singkatnya
- Musim hujan di sebagian besar Indonesia berlangsung sekitar Oktober sampai April
- Puncaknya umumnya Desember, Januari, dan Februari
- Tidak ada satu tanggal nasional. BMKG menetapkannya per Zona Musim (ZOM), dan antar zona bisa berselisih berminggu-minggu
Jadi jawaban yang benar untuk sebuah lokasi selalu berupa prakiraan zona, bukan kalender nasional.
Kenapa tidak ada satu tanggal untuk seluruh Indonesia
Indonesia terbentang lebih dari lima ribu kilometer di dua sisi khatulistiwa, dengan pegunungan, laut, dan daratan yang memberi tiap daerah pola hujannya sendiri. BMKG karena itu membagi wilayah menjadi ratusan Zona Musim — area yang punya perbedaan jelas antara periode kering dan periode hujan.
Setiap zona mendapat prakiraan awal musimnya sendiri. Sebagian zona di Sumatra bagian utara sudah masuk musim hujan saat sebagian Nusa Tenggara masih kering. Ada pula wilayah yang tidak dibagi musim sama sekali karena hujan sepanjang tahun tanpa pola kering yang tegas.
Inilah sebabnya berita "musim hujan sudah dimulai" hampir selalu menyesatkan kalau dibaca sebagai kabar nasional. Yang benar adalah sebagian zona sudah, sebagian belum.
Bagaimana BMKG menetapkan awal musim hujan
Penetapannya memakai aturan hitung, bukan penilaian harian. BMKG memakai satuan dasarian — periode sepuluh hari, tiga dasarian dalam sebulan.
Sebuah zona dinyatakan masuk musim hujan ketika curah hujan dalam satu dasarian mencapai 50 mm atau lebih, dan diikuti oleh dua dasarian berikutnya. Syarat "diikuti" itu penting: hujan deras tiga hari di tengah kemarau tidak menjadikan sebuah daerah masuk musim hujan. Yang dicari adalah perubahan yang bertahan.
Karena itu pula pertanyaan "kapan hujan" tidak bisa dijawab oleh prakiraan musim, dan sebaliknya. Konsekuensi praktisnya, awal musim hujan selalu dapat dipastikan agak terlambat — baru diketahui setelah dua dasarian berikutnya lewat. Prakiraan yang terbit sebelum itu tetap prakiraan.
Tabel intensitas curah hujan menurut BMKG
Istilah "hujan lebat" dalam prakiraan cuaca bukan kesan subjektif. Ia kategori dengan batas angka, diukur sebagai tinggi air yang terkumpul bila tidak meresap, mengalir, atau menguap:
| Kategori | Curah hujan per hari | Yang biasanya terjadi |
|---|---|---|
| Hujan ringan | 0,5 – 20 mm | Jalan basah, genangan kecil, aktivitas normal |
| Hujan sedang | 20 – 50 mm | Genangan di titik rendah, jarak pandang berkurang |
| Hujan lebat | 50 – 100 mm | Drainase mulai kewalahan, genangan meluas |
| Hujan sangat lebat | 100 – 150 mm | Banjir di daerah rawan, aliran sungai naik cepat |
| Hujan ekstrem | Di atas 150 mm | Peringatan dini BMKG, potensi banjir dan longsor |
Satu milimeter curah hujan berarti satu liter air per meter persegi. Maka hujan ekstrem 150 mm sehari menurunkan 150 liter air di setiap meter persegi — di atas satu hektare, itu seribu lima ratus meter kubik air dalam sehari.
Dari angka hujan ke banjir
Hujan lebat tidak otomatis berarti banjir, dan banjir bisa terjadi tanpa hujan lebat di tempat itu. Tiga hal yang menentukan:
- Intensitas dibanding kapasitas drainase. Saluran dirancang untuk debit tertentu; di atas itu air tidak punya ke mana pergi
- Durasi. 60 mm dalam dua jam jauh lebih berbahaya daripada 60 mm yang tersebar sepanjang hari
- Hujan di hulu. Inilah yang sering tidak disadari — sebuah kota bisa banjir saat langitnya cerah, karena hujan turun di dataran tinggi yang sungainya bermuara ke sana
Jakarta adalah contoh paling jelas untuk poin ketiga. Banjir kiriman lewat sungai-sungai yang berhulu di kawasan Bogor dan Puncak bisa datang berjam-jam setelah hujannya berhenti, dan tidak terbaca sama sekali dari prakiraan cuaca lokal. Kota mana pun yang berada di hilir daerah aliran sungai menghadapi pola yang sama.
Yang perlu disiapkan sebelum puncak musim hujan
Bagi pemerintah daerah, BPBD, pemadam kebakaran, perusahaan dengan lokasi di dataran rendah, dan komunitas di bantaran sungai, musim hujan adalah jadwal yang bisa diantisipasi — bukan kejutan. Persiapan yang dilakukan bulan Oktober jauh lebih murah dan lebih tenang daripada pengadaan darurat di bulan Januari.
Perahu evakuasi adalah bagian yang paling sering terlambat disiapkan, karena baru terasa dibutuhkan saat air sudah naik — dan saat itu semua orang membutuhkannya sekaligus. Pertimbangan memilihnya dibahas di perahu banjir dan rescue boat.
Untuk kondisi banjir perkotaan, lambung polyethylene banyak dipilih karena tahan benturan beton, pagar, dan puing tanpa risiko sobek — perbandingannya dengan lambung karet ada di perahu karet vs perahu plastik PE, dan karakter bahannya di perahu plastik PE.
Perahu dan mesinnya dapat dilihat di katalog marine Viktori Keman Tradindo — perahu plastik PE Keman Boat dengan mesin tempel 9.8 HP atau 15 HP Enduro adalah kombinasi yang umum untuk keperluan evakuasi. Kelengkapan dokumennya dibahas di surat perahu motor dan Pas Kecil.
Prakiraan musim dan peringatan dini selalu berubah. Untuk kondisi terkini di wilayah Anda, rujuk laman resmi BMKG, bukan tulisan ini.
