Prakiraan cuaca BMKG muncul di layar sebagai satu baris pendek — "hujan ringan, siang hari". Di belakang baris itu ada rangkaian pekerjaan yang dimulai jauh sebelum ramalannya ditulis, dan sebagian besarnya adalah pengukuran, bukan peramalan.
Jawaban singkatnya
BMKG menyusun prakiraan cuaca dalam empat tahap:
- Mengamati keadaan atmosfer saat ini — di permukaan dan di ketinggian
- Mengumpulkan data itu bersama data dari seluruh dunia
- Menghitung kelanjutannya dengan model numerik
- Menafsirkan hasil hitungan itu oleh prakirawan sebelum diterbitkan
Ramalan cuaca pada dasarnya adalah perhitungan fisika atas keadaan atmosfer yang terukur. Mutunya ditentukan lebih dulu oleh mutu pengukurannya.
Tahap 1: mengamati atmosfer
BMKG mengamati cuaca dari beberapa lapis sekaligus, karena tidak ada satu alat pun yang melihat semuanya:
- Stasiun permukaan — suhu, kelembapan, tekanan, angin, dan curah hujan di ketinggian manusia
- Radar cuaca — menyapu langit dan membaca butiran hujan serta es di dalam awan
- Satelit — mengamati dari orbit, terutama puncak awan dan suhunya
- Pengamatan udara atas — balon yang dilepas menembus atmosfer sambil mengukur
Tiga yang pertama mengamati dari jauh. Hanya yang terakhir mengukur dari dalam atmosfer itu sendiri.
Tahap 2: kenapa balon masih dilepas setiap hari
Satelit membaca puncak awan, radar membaca butiran air. Keduanya tidak memberi tahu suhu dan kelembapan di antara permukaan dan puncak awan — padahal justru di situlah hujan terbentuk atau batal terbentuk.
Balon yang membawa radiosonde menjawab itu. Selama naik, radiosonde mengirim bacaan tekanan, suhu, kelembapan, dan angin ke penerima di darat, menghasilkan satu profil tegak atmosfer dari permukaan sampai belasan kilometer. Profil itu memperlihatkan lapisan mana yang lembap, di ketinggian berapa suhu turun melewati titik beku, dan seberapa labil udaranya — tiga hal yang menentukan apakah hari itu akan hujan.
Jenis balon yang dipakai dan cara kerjanya dibahas di fungsi balon Totex.
Tahap 3: kenapa jamnya aneh
Pengamatan udara atas tidak dilakukan sembarang waktu. Jadwalnya mengikuti standar Organisasi Meteorologi Dunia, dan itulah sebabnya jam di Indonesia terasa ganjil:
| Pengamatan | Waktu UTC | Waktu WIB |
|---|---|---|
| Radiosonde | 00 dan 12 UTC | 07.00 dan 19.00 |
| Pibal | 06 dan 18 UTC | 13.00 dan 01.00 |
Alasannya satu: model cuaca memerlukan potret atmosfer dunia yang diambil pada saat yang sama. Udara di atas Jakarta hari ini adalah udara yang kemarin berada di tempat lain, sehingga ramalan untuk Indonesia memerlukan keadaan atmosfer di luar Indonesia juga. Balon di Jakarta, Tokyo, dan Nairobi karena itu dilepas pada detik yang kurang lebih sama, lalu hasilnya dipertukarkan antarnegara.
Jadwal pibal berbeda-beda antar stasiun — sebagian melepasnya empat kali sehari, sebagian hanya pada jam yang tidak bertabrakan dengan radiosonde. Jadwal pasti sebuah stasiun sebaiknya ditanyakan langsung ke stasiun meteorologi setempat.
Tahap 4: model numerik
Hasil pengamatan dimasukkan ke model numerik — program yang membagi atmosfer menjadi kotak-kotak tiga dimensi, lalu menghitung bagaimana udara di tiap kotak bergerak, memanas, dan melepaskan uap air pada langkah waktu berikutnya.
Di sinilah sifat ramalan cuaca ditentukan. Model menghitung maju dari keadaan awal, sehingga kesalahan kecil pada keadaan awal membesar seiring waktu. Itulah sebabnya prakiraan untuk besok jauh lebih dapat diandalkan daripada prakiraan untuk sepuluh hari lagi — bukan karena modelnya lemah, tetapi karena atmosfer memang bersifat demikian.
Tahap 5: prakirawan
Keluaran model bukan ramalan jadi. Seorang prakirawan membandingkan beberapa model, memeriksa apakah hasilnya masuk akal terhadap pengamatan terakhir, dan menyesuaikannya dengan keadaan setempat yang tidak tertangkap kotak model — gunung, garis pantai, dan angin lokal.
Barulah setelah itu prakiraan diterbitkan, bersama peringatan dini bila ada potensi cuaca ekstrem.
Kenapa prakiraan bisa meleset
- Jarak antar pengamatan. Atmosfer diukur di titik-titik yang berjauhan, sedangkan di antaranya hanya diperkirakan
- Ukuran kotak model. Awan hujan tunggal bisa lebih kecil daripada satu kotak, sehingga tidak terwakili utuh
- Waktu. Semakin jauh ke depan, semakin besar selisih yang menumpuk
Prakiraan cuaca karena itu paling tepat dibaca sebagai peluang, bukan kepastian. Untuk kondisi terkini di wilayah Anda, rujuk laman resmi BMKG.
Perlengkapan pengamatan
Balon Totex meteorologi jenis pibal dan rason tersedia dari Viktori Keman Tradindo. Bagaimana BMKG menetapkan awal musim — sebuah perhitungan yang berbeda dari prakiraan harian — dibahas di kapan musim hujan di Indonesia.
