Setiap hari, di stasiun meteorologi di seluruh Indonesia, sebuah balon karet dilepas ke langit dan tidak pernah kembali. Balon itu naik sampai pecah, lalu jatuh entah ke mana. Dilihat sepintas, ini cara yang boros dan kuno untuk mengamati cuaca — padahal satelit sudah mengawasi dari orbit dan radar sudah menyapu langit dari darat.
Balon tetap dilepas karena satelit dan radar tidak bisa melakukan satu hal yang balon lakukan.
Jawaban singkatnya
Balon meteorologi adalah satu-satunya alat yang mengukur atmosfer dari dalam, lapis demi lapis, dari permukaan sampai belasan kilometer di atasnya.
- Satelit melihat dari atas — yang terbaca terutama puncak awan
- Radar menyapu dari bawah — yang terbaca butiran hujan dan es
- Balon menembus seluruh lapisan dan mengukur langsung di tempat
Dua jenis balon Totex dan fungsinya
Totex Corporation memproduksi balon meteorologi di Jepang sejak 1937, dan balonnya dipakai di berbagai stasiun meteorologi di Indonesia. Yang beredar ada dua jenis, dengan tugas yang berbeda:
| Jenis balon | Berat | Warna | Yang diamati | Cara mengamati |
|---|---|---|---|---|
| Balon Pibal | 30 gram | Merah | Arah dan kecepatan angin lapisan atas | Diikuti mata lewat theodolite |
| Balon Rason | 350 gram | Putih | Tekanan, suhu, kelembapan, dan angin | Radiosonde mengirim data ke penerima di darat |
Perbedaannya bukan soal mutu, melainkan soal pertanyaan yang hendak dijawab. Balon pibal menjawab satu hal saja — angin di atas sana — dan menjawabnya tanpa alat elektronik apa pun. Balon rason menjawab empat hal sekaligus, tetapi memerlukan radiosonde yang digantung di bawahnya.
Balon pibal: diamati dengan mata
Pengamatan pibal adalah salah satu metode tertua yang masih dipakai, dan cara kerjanya tetap sederhana. Balon merah 30 gram dilepas, lalu pengamat mengikutinya lewat theodolite — teropong yang dapat membaca sudut.
Pengamat mencatat dua angka berulang kali: sudut elevasi (seberapa tinggi balon dari garis datar) dan sudut azimut (ke arah mata angin mana). Karena laju naik balon sudah diketahui dari isian gasnya, perubahan kedua sudut itu cukup untuk menghitung ke mana dan secepat apa angin membawa balon di tiap ketinggian.
Warna merah dipilih bukan untuk hiasan: balon harus tetap terlihat mata dengan latar langit dan awan selama mungkin.
Balon rason: membawa alat ukur
Balon rason 350 gram berwarna putih dan jauh lebih besar karena harus mengangkat beban. Yang digantung di bawahnya adalah radiosonde — kotak kecil berisi sensor dan pemancar radio.
Selama balon naik, radiosonde mengirim bacaan tekanan, suhu, kelembapan, arah dan kecepatan angin ke penerima di darat, terus-menerus sampai balon pecah. Hasilnya bukan satu angka, melainkan satu profil tegak atmosfer — bagaimana suhu dan kelembapan berubah di tiap ketinggian.
Profil itulah yang tidak bisa didapat dengan cara lain, dan itulah sebabnya balon masih dilepas dua kali sehari.
Spesifikasi balon 350 gram
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Bahan | Lateks alam |
| Berat nominal | 350 gram |
| Laju naik | ± 350 meter per menit |
| Diameter saat pecah | ± 4,1 meter |
| Ketinggian pecah | ± 14,6–21,3 km, tergantung beban dan isian gas |
| Diameter leher | 3,0 cm |
| Panjang leher | 12,0 cm |
Satu catatan tentang ketinggian pecah: rentangnya lebar karena memang tidak tetap. Beban yang lebih berat membuat balon pecah lebih rendah, dan isian gas yang lebih banyak membuatnya naik lebih cepat tetapi juga pecah lebih awal. Balon kelas lebih besar — 800 gram ke atas — tercatat mencapai 33 sampai 38 km.
Kenapa balonnya harus pecah
Balon meteorologi tidak dirancang untuk kembali. Saat naik, tekanan udara di sekelilingnya terus turun, sehingga gas di dalam balon memuai dan balon ikut membesar. Balon 350 gram yang dilepas seukuran sekitar satu setengah meter akan mencapai sekitar empat meter sebelum lateksnya tidak sanggup lagi meregang.
Karena itu lateks alam dipilih, bukan plastik: ia mampu meregang berkali-kali lipat sebelum putus. Pecahnya balon adalah akhir normal setiap penerbangan, bukan tanda alat gagal.
Memesan
Balon Totex meteorologi tersedia dalam jenis pibal 30 gram dan rason 350 gram dari Viktori Keman Tradindo. Bagaimana data dari balon ini dipakai menyusun ramalan cuaca dibahas di bagaimana BMKG memprediksi cuaca, dan bagaimana BMKG menetapkan awal musim di kapan musim hujan di Indonesia.
